3 Alasan Mengapa Anda Perlu Menonaktifkan Plugin Caching WordPress Anda
Diterbitkan: 2021-12-31Situs web yang memuat lambat dapat membahayakan pengalaman pengguna dan pengoptimalan mesin telusur (SEO). Mereka dapat meningkatkan rasio pentalan dan menurunkan posisi di Google karena kecepatan halaman merupakan faktor peringkat untuk hasil pencarian.
Bagi banyak orang, memasang plugin caching WordPress adalah solusi praktis untuk meningkatkan kecepatan situs web. Namun, tidak semua plugin caching berfungsi sebagaimana mestinya dan bahkan dapat menyebabkan masalah.
Dukungan WordPress profesional dapat membantu Anda mengatasi masalah caching. Jika Anda tidak proaktif dalam hal ini, itu dapat menyebabkan situs WordPress Anda melambat, meningkatkan rasio pentalan, dan memengaruhi SERP Anda.
Artikel ini akan menjelaskan konsep dasar caching WordPress dan beberapa masalah umum yang mungkin Anda alami dengan plugin caching. Kami juga membahas tiga tip tentang cara memilih alat caching yang sempurna.
Isi
- 1 Apa itu Caching WordPress?
- 1.1 1. Caching sisi browser
- 1.2 2. Caching sisi server
- 2 Alasan untuk Menonaktifkan Plugin Caching WordPress Anda
- 2.1 1. Perubahan Tidak Ditampilkan
- 2.2 2. Plugin Bertentangan dengan Host Web
- 2.3 3. Situs Web Memuat Lebih Lambat
- 3 Memilih Plugin atau Alat Caching Anda
- 3.1 1. Pilih Penyedia Hosting Web yang Tepat
- 3.2 2. Memahami Kriteria Plugin Caching yang Baik
- 3.3 3. Pilih Alat dan Plugin Caching yang Tepat
- 4 Kesimpulan
Apa Itu Caching WordPress?
Caching WordPress mengacu pada proses penyimpanan sementara data seperti HTML dan file media dalam cache.
Saat pengguna mengunjungi situs WordPress, browser mereka akan mengirim permintaan ke server situs web untuk memuat konten web, dan proses ini mungkin memakan waktu.
Caching situs web membantu mempercepat proses ini dengan mengunduh data dan memuatnya saat Anda membuka situs yang sama di masa mendatang. Akibatnya, browser dapat menampilkan konten dengan cepat karena caching telah meminimalkan jumlah data yang dikirimkan antara browser dan server web.
Ada dua jenis utama cache web:
1. Caching sisi browser
Ini menyimpan konten di folder cache browser.
2. Caching sisi server
Ini memiliki sistem yang mirip dengan caching sisi browser, tetapi menggunakan server untuk menyimpan data. Dengan opsi ini, dimungkinkan untuk men-cache halaman penuh atau bagian tertentu dari situs web, seperti widget dan ekstensi.
Alasan Menonaktifkan Plugin Caching WordPress Anda
Plugin caching WordPress seharusnya membantu meningkatkan kecepatan situs web, tetapi ini tidak selalu terjadi. Banyak pengguna menemukan masalah dengan plugin caching dan mungkin perlu menonaktifkannya karena alasan berikut:
1. Perubahan Tidak Terlihat
Memasang plugin caching bisa menjadi masalah saat Anda ingin mengirimkan elemen desain web yang dipersonalisasi atau konten dinamis yang sering diperbarui. Mereka umumnya memerlukan permintaan tambahan ke server dan mungkin tidak muncul secara akurat jika Anda menggunakan caching.
2. Konflik Plugin dengan Web Host
Penyedia hosting biasanya memiliki daftar plugin yang dilarang dan tidak kompatibel. Daftar ini mungkin menyertakan plugin caching jika web host sudah melakukan caching sisi server.
Dalam hal ini, plugin caching tambahan akan tumpang tindih atau mengganggu alat bawaan host web. Oleh karena itu, pengguna yang memasang plugin caching eksternal mungkin menghadapi masalah kinerja dan perlu menonaktifkannya.
3. Situs Web Memuat Lebih Lambat
Situs web yang memuat lambat mungkin akibat konflik plugin di atas.
Selain itu, plugin cache hanya mempercepat permintaan yang di-cache tetapi dapat memperlambat permintaan yang tidak. Tingkat hit cache umum adalah antara 10% hingga 25% , sehingga 75% hingga 90% pengunjung mungkin mengalami kehilangan cache.

Kehilangan cache terjadi ketika cache tidak dapat menemukan data tertentu dan membutuhkan waktu ekstra dan sumber daya server untuk memenuhi kueri. Hal ini dapat mengakibatkan waktu pemuatan halaman menjadi lebih lambat.
Perhatikan bahwa plugin umumnya meningkatkan waktu pemuatan karena mereka menambahkan kode tambahan ke situs web. Beberapa plugin caching dapat menyebabkan masalah ini, meskipun plugin lain yang dikodekan dengan baik mungkin tidak.
Memilih Plugin atau Alat Caching Anda
Bagian ini akan membahas tips untuk memilih plugin atau alat caching yang tepat sambil menghindari kesalahan situs web.
1. Pilih Penyedia Hosting Web yang Tepat
Banyak web host memiliki fitur caching bawaan, jadi sebaiknya pilih perusahaan hosting web yang menawarkan ini. Dengan begitu, Anda tidak perlu menginstal plugin caching dan dapat menghindari plugin overload.
Saat memilih paket hosting, tinjau fitur-fiturnya dan lihat apakah alat caching bawaan disertakan. Hubungi dukungan pelanggan jika Anda tidak dapat menemukan informasinya.
2. Pahami Kriteria Plugin Caching yang Baik
Memasang plugin caching baru dapat menawarkan banyak manfaat, tetapi berhati-hatilah saat membuat pilihan ini.
Berikut adalah beberapa tips untuk membantu memilih plugin caching yang tepat:
- Periksa ulasan dan peringkat plugin di direktori plugin WordPress, platform ulasan pihak ketiga, dan situs web terkemuka lainnya.
- Lihat pertanyaan yang dijawab plugin di forum dukungannya untuk memastikan ketersediaan dukungan pelanggan.
- Lihat pembaruan terakhir plugin untuk melihat apakah pengembang secara teratur meningkatkannya agar sesuai dengan versi terbaru WordPress.
- Pastikan plugin memiliki fitur menonaktifkan cache untuk konten yang sering diperbarui seperti FAQ.
- Temukan paket harga dan hitung anggaran Anda.
3. Pilih Alat dan Plugin Caching yang Tepat
Setelah mempertimbangkan tips di atas, periksa panduan penyedia hosting Anda untuk menghindari menginstal plugin daftar hitam. Atau, tanyakan agen dukungan pelanggan mereka alat atau plugin caching mana yang kompatibel dengan hosting mereka.
Jika penyedia hosting mengizinkan pengguna untuk menginstal plugin caching apa pun, berikut adalah rekomendasi utama kami:
- Ini adalah layanan Jaringan Pengiriman Konten (CDN) dengan banyak fitur, termasuk kontrol dan perlindungan cache. Cache CDN yang baik dapat memiliki rasio hit 95 hingga 99% untuk sebagian besar situs.
- Plugin WordPress ini menawarkan akselerasi situs all-in-one dan caching tingkat server. Sebuah tes menunjukkan bahwa LiteSpeed memberikan kinerja 12 kali lebih cepat daripada Nginx dan Apache.
- Tembolok Total W3. Ini adalah salah satu plugin caching WordPress paling populer dengan lebih dari satu juta instalasi. W3 Total Cache menawarkan berbagai jenis web caching dan menerima Grade A dalam berbagai alat uji kecepatan, seperti Page Speed Insights dan WebPageTest .
Kesimpulan
Caching WordPress menggunakan penyimpanan data sementara untuk mengurangi jumlah permintaan antara browser web dan server. Saat pengguna mengakses situs web yang di-cache, konten web cenderung dimuat lebih cepat.
Namun, beberapa orang menemukan bahwa plugin caching tidak selalu meningkatkan kecepatan pemuatan.
Dalam hal ini, berikut adalah tiga alasan mengapa Anda harus mempertimbangkan untuk menonaktifkan plugin caching WordPress:
- Perubahan tidak ditampilkan.
- Plugin bertentangan dengan host web.
- Ini memperlambat situs web.
Untuk menghindari masalah caching, pertimbangkan untuk memilih penyedia hosting dengan fungsi caching bawaan.
Atau, pilih alat atau plugin caching lain dengan hati-hati dan pastikan itu kompatibel dengan host web Anda. Opsi yang kami rekomendasikan adalah Cloudflare , Litespeed , dan W3 Total Cache .
Baca Juga:
- Tren Desain Web Teratas untuk Bisnis Kecil
- 6 Hal Yang Harus Anda Cari Di Agen Desain Web
- Jelajahi Beberapa Taktik Desain Web Penting yang Terinspirasi Oleh Instagram
